Rabu, 13 Januari 2010

Mengungkap keajaiban mendengarkan (bag 2)

Mendengarkan memang salah satu kemampuan penting manusia. Kemampuan mendengarkan ini sangat dibutuhkan seorang pemimpin dalam mendengar aspirasi dari bawahannya. Hal ini juga dibutuhkan sepasang suami-istri dalam menjalin hubungannya atau saat seorang sahabat curhat dengan kita. Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mendengarkan secara efektif?

Mendengarkan secara efektif ini bisa terjadi ketika kita mampu menangkap isi pesan atau memahami maksud dari pembicara. Setidaknya ada 2 cara agar Anda bisa mendengarkan secara efektif
1. Mendengarkan secar aktif
Mendengarkan secara aktif ini merupakan cara mendengarkan untuk memperoleh informasi lebih, meningkatkan pemahaman tentang pandangan seseorang, atau agar bisa bekerjasama secara efektif dengan orang lain. Pendekatan ini tidak hanya mempelajari dan mengingat apa yang dikatakan tapi juga mengkomunikasi minat terhadap bahan pembicaraan.

Mendengarkan aktif bisa dilakukan dengan:
Melihat dan mendengarkan secara antusias
Menggunakan kontak mata secara aktif. Posisi tubuh yang baik dan ekspresi wajah yang menunjukan penuh perhatian. Hindari bahasa tubuh yang mengganggu seperti bermain pensil atau menggambar. Dan tunjukan beberapa pendapat seperti “oke”, “terus..” sehingga mendorong orang untuk melanjutkan pembicaraan
Adopsi pandangan orang tersebut
Coba pahami sudut pandang pembicara. Tahan untuk mengungkap reaksi atau pendapat hingga dia selesai mejelaskan. Berempatilah dengan sudut pandang orang tersebut. Pahami perasaanya bukan hanya perkataannya. Dan coba respon dengan menggunkan sudut pandang orang tersebut, bukan sudut pandang pribadi.
Klarifikasi pemikiran dan perasaan orang tersebut
Coba klarifikasi apa yang telah dibicarakan. Saat pembicara berhenti, coba Tanya dengan pertanyaan terbuka seperti “Bagaimana perasaan Anda tentang X?”, “bisakah anda ceritakan tentang X?”, “Apa pendapat anda tentang X?”. Gunakan cara refleksi untuk memahami perasaan pembicara seperti “Jadi, apakah Anda puas dengan perkembangan X?”

2. Merefleksikan
Tipe reflecksi ini biasa digunakan dalam teknik konseling, hal ini dilakukan untuk mendapatkan pemahaman tentang pikiran dan khususnya perasaan orang. Biasanya teknik ini digunakan untuk membantu sesorang untuk mengeksplorasi pemahaman sesorang tentang sesuatu.

Mencerminkan perasaan dan pemikiran pembicara.

Menyatakanlah kembali apa pembicara katakan untuk mengetahui pemahaman kita, contohnya: " Jadi, kamu tidak bisa menyelesaikan tugas tepat waktu?" "Menurut kamu waktu yang diberikan tidak cukup?"). hal ini digunakan juga untuk memahami perasaan pembicara "Kamu tampak merasanya tidak tertarik dengan masalah ini sebab tidak bisa menyelesaikan tugas tepat waktu?"). Cobalah untuk menginterprestasi perasaan orang tersbut, seperti :” Anda tampak marah dengan kondisi saat ini”
Hal ini bisa Anda lakukan dengan melakukan penekanan atau pengaturan intonasi terhadap perasaan yang mungkin dialami oleh pembicara.

Merespon daripada memimpin pembicaraan
Saat lawan bicara mengutarakan pemikiran dan perasaan. Jangan sampai anda mengarahkan kepada sesuatu yang minati. Ambilah sikap netral. Anda cukup memberikan respon dari apa yang diungkapkan lawan bicara Anda. “jadi Anda merasa terpaksa melakukan tugas ini?”. Cobalah untuk tetap menggunakan paradigma pasangan Anda. Coba gali lagi dengan pertanyaan seperti : “Mengapa?”


Merespon kepada perasaan daripada isi yang disampaikan

Coba tangkap perasaan yang dialami oleh lawan bicara Anda. Hal ini mempunyai banyak makna lebih daripada apa isi yang disampaikan. Anda akan membantu lawan bicara Anda mengekspolarasi diri lebih banyak lagi ketika hal ini menyangkut perasaanya (contoh : “Jadi kamu kecewa ketika X tidak datang?) daripada isi (“Mengapa X tidak membantu Anda?”. memahami perasaan seorang ini bisa Anda pahami dengan dengan menyakan secara spesifik suatu persoalan (“Anda adalah bawahan Y, dan Anda mendapat tugas yang tidak sesuai dengan bidang Anda?” daripada suatu hal yang bersifat umum (“jadi manajemen disini kurang professional?”.

12 comments:

Ahmad Ramadani mengatakan...

PErtamaX....
selain mendengarkan, melihat juga sangat penting. bener enggk sob.?

Clara mengatakan...

bener, kita emang harus menjadi pendengar yg aktif seperti itu

Elsa mengatakan...

baru tau yaa ternyata mendengar ada macem macemnya. hhm... dibaca ulang aaah biar lebih ngerti...

miwwa mengatakan...

apa beda ny mendengar uneg-uneg orang, dan membaca uneg-uneg orang? ya misalny di blog gini.

anyin mengatakan...

saya kayaknya sering yang mendengarkan secara aktif mas..

Sari mengatakan...

Tips yang berguna banget :)
Salam kenal yak...
Udah ku pollow :D

SeNjA mengatakan...

saya lebih suka mendengar dari pada berbicara hehe,...

Etha mengatakan...

kek nya etha pendengar aktip deh ... ^^

YolizZ mengatakan...

kalo aku suka jadi pendengar,, tapi agak sulit jadi 'pembicara' hehehehe... :D

Zahra Lathifa mengatakan...

hmmh, benar2 inspiratif...thanks dwi untuk sharingnya, semoga kita bisa lebih banyak belajar untuk menjadi pendengar yang baik...:)

tikno mengatakan...

Tulisan yang dapat memberikan inspirasi.

dwi wahyu arif nugroho mengatakan...

@ahmad : bolh :D
@all : slmat menikmati mendearkan :D